TV UPI Selenggarakan Bedah Buku Pembelajaran Jarak Jauh dan Politik Kurikulum

By babapanda 14 Feb 2021, 15:50:36 WIB Kampus
TV UPI Selenggarakan Bedah Buku Pembelajaran Jarak Jauh dan Politik Kurikulum

Bandung, UPI. Pandemi Covid-19 yang ada di Indonesia semenjak awal tahun 2020 memberikan dampak besar bagi Pendidikan. Pembelajaran di dalam kelas dihentikan untuk mengantisipasi penularan virus  yang lebih luas. Pembelajaran jarak jauh dipilih sebagai solusi yang efektif. Pada hari Selasa (09/02/2021) diselenggarakan bedah buku bertajuk Pembelajaran Jarak Jauh Video Community Digital Nusantara(VCDLN) dan Politik Kurikulum.

Prof. Deni Darmawan, M.Si., MCE kembali melahirkan karya buku Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berjudul ‘Pendekatan dan Implementasi VCDLN, Teknologi Televisi dan E-Learning’ yang ditulis bersama Dr. Toto Ruhimat, M.Pd. Acara platform Zoom Meeting dan juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube TV UPI. Bedah Buku Pembelajaran Jarak Jauh ini dikaji oleh oleh Prof. Dr. Devidescu Christiana Victoria Martha, M.A. Dan untuk buku Politik Kurikulum dikaji oleh Dr. Asep Sudarsono, S.Pd., M.M. KCD Dinas Pendidikan Wilayah XI Provinsi Jabar dihadiri oleh para akademisi dari berbagai institusi dengan pemandu acara oleh Karina Putri Setiawan.

Konsep VCDLN atau Virtual Community Digital Learning Nusantara merupakan inovasi baru yang dilatarbelakangi kondisi pandemi saat ini. Namun tak hanya pada pandemi ini saja, open distance learning ini juga penting udah dipahami khususnya bagi daerah yang jauh dari tempat penyelenggara pendidikan. Konsep pembelajaran virtual ini diharapkan mampu menginspirasi para pemangku kebijakan di bidang pendidikan. Media yang digunakan untuk VCDLN ini tak lain adalah teknologi televisi dan berbagai platform lainnya.

Diantara 13 Bab yang ada dalam buku karya Prof Deni, dua bab di awal sudah menjadi pembuka yang menarik bagi para pembaca. Pada Bab I, pembahasan berfokus pada kebutuhan akan langkah-langkah konkrit yang bisa diadaptasi untuk menyelesaikan masalah selama PJJ di buku VCDLN ini. Dengan adanya komunitas pembelajar virtual, interaksi antara pengajar dengan anak didik akan berjalan lebih baik. Hal ini membutuhkan perhatian dari para pemangku kebijakan, pengembang konten. Harus ada kesepamahaman regulasi dari semua pihak mengenai pedoman bagaimana kita harus berkiprah dalam virtual community ini.

Kemudian pada Bab II, dibahas mengenai kekuatan dalam melahirkan generasi emas. Kondisi infrastruktur yang diperlukan dalam mendukung lahirnya generasi emas tidak perlu dipahami secara fisik. Tetapi secara akses virtual dengan cara menggratiskan akses internet setelah semua pihak setuju dan membentuk kemitraan dengan industri telekomunikasi. Pemangku kebijakan harus bertindak segera untuk mengatasi berbagai masalah pada bidang pendidikan, terutama di masa pandemi. Materi pada Bab lainnya turut melengkapi bahasan lebih lanjut VCDLN sampai mengenai Digital Ecosystem Technology Program Televisi.

Bedah buku pada sesi ke-2 yaitu buku politik kurikulum yang ditulis oleh Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA. Pengkajian buku ‘Politik Kurikulum’ dilakukan oleh Dr. Asep Sudarsono, S.Pd., MM yang juga merupakan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Wilayah XI. Buku yang terdiri dari 7 Bab ini diawali pada Bab I dengan mengingatkan kembali bahwa 20% APBN diperuntukkan untuk Guru. Politik kurikulum menggambarkan ilmu baru yang perlu dipelajari seperti 10 kompetensi yang perlu dikuasai tenaga pengajar khususnya dalam menghadapi anak didik.

Pada Bab II yang berjudul ‘Politik dan Pendulum Kurikulum’, penulis membahas jika kurikulum harus dinamis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Selanjutnya pada Bab III, mengenai Teori Politik Kurikulum, Bab IV mengenai Politik dan Evaluasi Kurikulum, Bab V menjelaskan Politik Kurikulum Masa Penjajahan Belanda dan Jepang dihubungkan pada Bab VI yang membahas Politik Kurikulum Periode Pasca Kemerdekaan serta Bab VII dengan Beberapa Praktik Politik Kurikulum Antarbangsa.

Buku dengan bahasan yang lengkap ini sayangnya dirasa terlalu tebal sehingga lebih baik rasanya untuk dibuat menjadi buku berseri agar lebih nyaman untuk dibaca. Namun banyak kelebihan yang dimiliki oleh buku ini diantaranya yakni bahasanya mudah dipahami, tetap dilandasi fakta juga teori yang bagus, dan menjadi sarana untuk menambah wawasan bagi para akademisi mulai dari mahasiswa, Kepala Sekolah, politisi dan juga pemerintah. Kegiatan bedah buku ini diagendakan untuk dapat diselenggarakan setiap bulannya. Dan diharapkan dapat meningkatkan wawasan civitas akademika dan juga sebagai sarana penyebarluasan informasi dan inovasi yang baru dari para akademisi Universitas Pendidikan Indonesia. (Nadiakhair-Carakamuda).

Sumber : https://s.id/ysmhw




View all comments

Write a comment